21.1.10

Kilasan Peristiwa-Peristiwa Risiko Sepanjang 2009

(Vibiznews - Business) – Sepanjang tahun 2009 kita telah menghadapi sejumlah peristiwa besar, baik global maupun lokal. Mulai dari bencana alam, terorisme, pandemi, kebakaran, hingga kecelakaan. Peristiwa-peristiwa ini menjadi suatu monumen yang mengingatkan kita akan pentingnya suatu manajemen risiko, demi mencegah hal serupa terulang di masa depan.

Sektor Riil Terkena Imbas Krisis Finansial
Krisis finansial paling banyak memakan korban di sektor perbankan, dimana terdapat lebih dari 100 bank yang gagal di AS, setelah pada tahun 2008 hanya sekitar 25 bank yang gagal. Salah satunya adalah Washington Mutual Bank, yang merupakan bank komersial terbesar di AS.

Sektor otomotif AS juga mengalami kemerosotan, penjualan anjlok dua digit, dan mengakibatkan raksasa otomotif seperti GM dan Chrysler bangkrut, dan harus menerima bailout dari pemerintah.

Sementara itu di Indonesia, kasus perbankan yang masih hot hingga saat ini adalah Bank Century, yang dikategorikan sebagai bank gagal berdampak sistemik, sehingga harus memperoleh bailout dari LPS sebesar Rp6.7 triliun.

Fraud Terbongkar
Sejumlah fraud yang terbongkar di tahun 2009 juga semakin mengingatkan akan pentingnya manajemen risiko. Juni 2009, Bernie Madoff yang merupakan mantan kepala bursa Nasdaq yang disegani di dunia investasi, mengaku telah melakukan fraud nyaris sebesar $18 miliar, dengan korban klien-klien besar di seluruh dunia. Madoff selama ini hanya menjalankan skema Ponzi belaka: gali lubang, tutup lubang. Ia akhirnya dijatuhi hukuman 150 tahun penjara oleh pengadilan.

Di Indonesia, fraud yang paling menghebohkan masyarakat adalah kasus Sarijaya Sekuritas. Sejumlah manajemen Sarijaya ketahuan melakukan fraud yakni menyalahfunakan account dari klien-klien Sarijaya untuk kepentingan pribadi. Dalam rangka mencegah kasus semacam ini terulang lagi, IDX menyiapkan sistem yang memungkinkan investor untuk mengecek account dan aset mereka yang tercatat di KSEI.

Pandemi Flu H1N1
Virus H1N1 yang biasa disebut dengan `flu babi` yang berasal dari Mexico City, terus memakan korban dan dengan cepat berkembang jadi pandemi di seluruh dunia. Hingga Desember 2009, World Health Organisation (WHO) mencatat total kasus penderita flu babi sebanyak 11,749 jiwa. Di Indonesia sendiri, kasus kematian akibat flu babi mencapai hampir 1,000 jiwa.

Meskipun di Indonesia flu babi tidak menyebar luas, namun flu yang berasal dari Meksiko ini paling menelan banyak korban di AS dan Kanada. Di negara-negara tersebut, bisnis banyak yang menelan kerugian, mulai dari karena karyawan yang sakit, hingga kehilangan pelanggan (bisnis pariwisata). Menghadapi pandemi seperti ini, bisnis harus punya suatu business continuity planning.

Bencana Alam
Sejumlah bencana alam mengguncang dunia sepanjang tahun lalu, mulai dari gempa, banjir, angin topan, dan lainnya. Angin topan Ketsana dan Parma dikabarkan mempengaruhi lebih dari 8.5 juta jiwa, menelan korban sebesar 850 orang, serta mengakibatkan kerugian hingga $600 juta.

Dunia juga dikejutkan dengan gempa bumi skala 8.0 Richter yang mengguncang Pulau Samoa, yang disertai dengan tsunami yang menelan korban hingga 200 jiwa. Esoknya, gempa dengan skala 7.6 Richter terjadi di Padang, Sumatera Barat, mengakibatkan lebih dari 1,000 orang meninggal dan lebih dari 135,000 bangunan rusak.

Banjir juga terjadi di berbagai belahan dunia, seperti Amerika Serikat, Filipina, hingga Indonesia, dan menelan korban dan kerugian yang tidak sedikit. Di Indonesia, curah hujan yang tinggi dan berkepanjangan bahkan menimbulkan musibah lain yakni jebolnya tanggul Situ Gintung bulan Maret lalu. Lebih dari 1,000 orang menjadi korban, dan sekitar 100 orang meningal akibat musibah tersebut.

Insiden Transportasi
Kapten Chesley Sullenberger, yang biasa dipanggil Sully, menjadi pahlawan setelah ia berhasil mendaratkan pesawat US Airways Flight 1549 dan 155 penumpangnya di sungai Hudson secara darurat. Pesawat tersebut kehilangan dua mesinnya akibat menabrak sekawanan burung. Di kesempatan lain, di sungai tersebut pula 9 orang meninggal akibat tabrakan antara pesawat pribadi dengan helikopter. Menyikapi insiden-insiden tersebut, regulasi baru untuk keamanan transportasi udara di New York menerapkan syarat ketinggian untuk pesawat tertentu, serta praktek pelatihan baru untuk para pilot dan personil penerbangan.

Sepanjang tahun lalu, terdapat pula banyak kecelakaan pesawat yang terjadi di Indonesia, dan sebagian besar diakibatkan oleh kondisi cuaca yang buruk. Insiden kapal tenggelam juga terjadi pada kapal Seratai Prima di perairan Majene, dengan korban sekitar 300 orang. Insiden ini diharapkan dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi pihak-pihak yang terkait.

Kebakaran
Kebakaran hutan di California membumihanguskan lahan sebesar 336,000 acre, menelan jiwa 2 orang pemadam kebakaran, serta menghancurkan lebih dari 90 rumah, termasuk para bintang yang bermukim di Hollywood. Australia juga mengalami kebakaran hutan terburuk sepanjang sejarahnya, yang membumihanguskan 1.1 juta acre, dan menelan lebih dari 200 korban jiwa.

Sementara itu, kebakaran di Indonesia sepanjang 2009 yang dampaknya signifikan terjadi di Depo Pertamina di Plumpang, Jakarta Barat. Padahal, depo ini menyuplai kebutuhan BBM di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Kerugian yang ditimbulkan mencapai sekitar Rp15 miliar.

Terorisme
Negeri kita rupanya masih dihantui oleh kasus terorisme. Bulan Juli, dua hotel bintang lima di bilangan Mega Kuningan, yakni J.W. Marriott dan Ritz Carlton porak poranda akibat ledakan bom. Meskipun pengamanan di kedua hotel tersebut sudah sangat ketat, namun ternyata teroris masih bisa menyusup. Belakangan ketahuan ternyata bom dirakit di dalam hotel tersebut. Oleh karena itu, manajemen risiko di masa depan harus dapat mencegah hal seperti ini terulang kembali.



sumber: vibiznews.com
Bookmark and Share

Related Posts by Categories



0 komentar: