Kondisi perekonomian Jepang pada hari ini (2/6) memperlihatkan sedikit ketertekanan. Pagi tadi, Perdana Menteri Yukio Hatoyama menyatakan pengunduran diri dari jabatannya. Hal tersebut cenderung mengejutkan mengingat kebijakan yang dibuatnya terlalu dini padahal pemilihan umum baru akan dilangsungkan bulan Juli mendatang. Menurut perkembangan yang beredar, banyak faktor yang menyebabkan Hatoyama mundur dari jabatannya.
Salah satunya ialah adanya peluang kekalahan partai pengusungnya yaitu Partai Demokratik Jepang di pemilihan umum mendatang. Berbagai polling dan juga prediksi memberikan gambaran bahwa partai oposisi tersebut akan mengalami kekalahan dibandingkan dengan para pesaingnya. Para politisi di Jepang melihat bahwa prediksi kekalahan dari Partai Demokratik Jepang disebabkan oleh kebijakan para elit politik dari partai Demokratik yang dinilai kurang berhasil merebut simpati dari publik.
Lambannya pergerakan ekonomi dan pengaruh ketergantungan sektor moneter kepada Bank Sentral Jepang menjadi poin penting ketidaksukaan publik terhadap pemerintah. Apalagi ditambah oleh adanya kebijakan kenaikan tarif pajak guna memberikan insentif bagi perekonomian yang justru disisi lain menekan sektor konsumsi masyarakat di Jepang. Di dalam tubuh Partai Demokratik sendiri juga terlihat kondisi yang kurang baik dimana Sekjen Partai, Ichiro Ozawa yang juga mengundurkan diri karena dinilai gagal untul meningkatkan pamor partainya.

Sedangkan dari segi politik dan keamanan, pernyataan dari Hatoyama yang ingin memberikan ijin kembali bagi pendirian pangkalan militer AS juga terbilang merupakan kebijakan yang terlalu beresiko bagi pemerintah. Mengingat rakyat Jepang tidak ingin adanya pangkalan militer AS ada di negaranya.
Paska penguduran diri Hatoyama, beredar spekulasi bahwa yang akan menggantikan dirinya ialah Naoto Kan yang kini menjabat sebagai Menteri Keuangan Jepang. Publik melihat Kan sebagai sosok positif yang berperan dalam mengangkat perekonomian Jepang dalam 2 kali kepemimpinannya. Publik juga menilai bahwa lambannya pertumbuhan ekonomi Jepang akibat adanya ketidakselarasan antara kebijakan yang diusung oleh Kan dengan keinginan yang diajukan oleh Hatoyama.
Disisi lain, Kan juga dinilai sukses dalam menerapkan disiplin fiskal. Sehingga memberikan sebuah pencegahan dari borosnya pengeluaran negara mengingat proses pemulihan ekonomi masih sedang berlangsung hingga saat ini. Spekulasi ini diperkirakan akan berkembang sampai dengan Pemilihan Umum bulan depan. Akibat mundurnya Hatoyama sebagai PM, yen pun turun tertekan menjadi 91,78 per dollar AS.
Salah satunya ialah adanya peluang kekalahan partai pengusungnya yaitu Partai Demokratik Jepang di pemilihan umum mendatang. Berbagai polling dan juga prediksi memberikan gambaran bahwa partai oposisi tersebut akan mengalami kekalahan dibandingkan dengan para pesaingnya. Para politisi di Jepang melihat bahwa prediksi kekalahan dari Partai Demokratik Jepang disebabkan oleh kebijakan para elit politik dari partai Demokratik yang dinilai kurang berhasil merebut simpati dari publik.
Lambannya pergerakan ekonomi dan pengaruh ketergantungan sektor moneter kepada Bank Sentral Jepang menjadi poin penting ketidaksukaan publik terhadap pemerintah. Apalagi ditambah oleh adanya kebijakan kenaikan tarif pajak guna memberikan insentif bagi perekonomian yang justru disisi lain menekan sektor konsumsi masyarakat di Jepang. Di dalam tubuh Partai Demokratik sendiri juga terlihat kondisi yang kurang baik dimana Sekjen Partai, Ichiro Ozawa yang juga mengundurkan diri karena dinilai gagal untul meningkatkan pamor partainya.
Sedangkan dari segi politik dan keamanan, pernyataan dari Hatoyama yang ingin memberikan ijin kembali bagi pendirian pangkalan militer AS juga terbilang merupakan kebijakan yang terlalu beresiko bagi pemerintah. Mengingat rakyat Jepang tidak ingin adanya pangkalan militer AS ada di negaranya.
Paska penguduran diri Hatoyama, beredar spekulasi bahwa yang akan menggantikan dirinya ialah Naoto Kan yang kini menjabat sebagai Menteri Keuangan Jepang. Publik melihat Kan sebagai sosok positif yang berperan dalam mengangkat perekonomian Jepang dalam 2 kali kepemimpinannya. Publik juga menilai bahwa lambannya pertumbuhan ekonomi Jepang akibat adanya ketidakselarasan antara kebijakan yang diusung oleh Kan dengan keinginan yang diajukan oleh Hatoyama.
Disisi lain, Kan juga dinilai sukses dalam menerapkan disiplin fiskal. Sehingga memberikan sebuah pencegahan dari borosnya pengeluaran negara mengingat proses pemulihan ekonomi masih sedang berlangsung hingga saat ini. Spekulasi ini diperkirakan akan berkembang sampai dengan Pemilihan Umum bulan depan. Akibat mundurnya Hatoyama sebagai PM, yen pun turun tertekan menjadi 91,78 per dollar AS.
sumber: vibiznews.com

0 komentar:
Posting Komentar