21.10.11

Perang Dagang Beijing-Washington Kembali Memanas; Renminbi Jadi Fokus

Kamis, 20 Oktober 2011 15:50 WIB

Chief Executive Hong Kong (setingkat gubernur) Donald Tsang menyatakan bahwa kemungkinan kembali terjadinya resesi global sangat besar (20/10). Tsang menyatakan kekhawatiran bahwa kondisi yang mengarah ke resesi ini akan mengakibatkan melambatnya progress apresiasi yuan.

Menurut Tsang saat ini tingkat kepercayaan di kalangan investor masih sangat rendah. Sementara itu konsumsi masyarakat Eropa dan AS yang terpukul juga membuat kondisi ekonomi makin mengalami tekanan.

Tsang memprediksi bahwa seiring dengan kondisi-kondisi tersebut, kesediaan pemerintah China untuk melepaskan pergerakan yuan akan kembali terhambat. Yuan diperkirakan akan kembali ‘dikekang’ untuk melindungi daya saing ekspor China. Tsang menyatakan bahwa untuk saat ini nilai tukar yuan telah berada di level optimal.

Sepanjang tahun 2011 ini nilai tukar yuan telah mengalami kenaikan sebesar 3.2% terhadap dolar AS. Yuan telah membukukan total penguatan sebesar 7% sejak pemerintah dan bank sentral China memberikan kelonggaran pergerakan mata uang ini kurang lebih satu tahun lalu.

Perang Dagang dengan Washington Mulai Memanas

Progress apresiasi yuan yang melambat ini boleh jadi akan kembali memicu perang dagang antara Beijing dan Washington. Minggu lalu senat AS telah melakukan voting dan memutuskan untuk menekan China untuk mempercepat proses apresiasi yuan dan mengurangi perdagangan yang tidak adil.

Pernyataan senat AS ini memperoleh reaksi yang tidak menyenangkan dari pemerintah China. Menurut juru bicara Departemen Perdagangan China Shen Danyang pernyataan-pernyataan yang menyudutkan China tersebut dapat merusak hubungan dagang antara China dan AS. Menurutnya pernyataan yang dibuat pemerintah AS tersebut hanya merupakan hal yang bersifat politis dan untuk menutupi kekurangan di dalam negeri.

Neraca perdagangan China sendiri telah mulai merasakan dampak dari melemahnya ekonomi di AS dan Eropa. Pada bulan September lalu surplus perdagangan China berkurang menjadi hanya sebesar 14.51 miliar dolar, dari 17.76 miliar dolar yang dicapai pada bulan Agustus sebelumnya. Selama Sembilan bulan berjalan di tahun 2011 ini surplus perdagangan China hanya mencapai angka 107.1 miliar dolar, turun 11% dari periode yang sama tahun lalu.

Penurunan surplus tersebut juga tercermin dari rasio surplus perdagangan terhadap GDP. Pada Sembilan bulan pertama tahun 2011 surplus perdagangan China mencapai 2% dari GDP dan 4% dari total nilai perdagangan. Rasio surplus perdagangan terhadap GDP mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun 2010 yang mencapai 3.1%.

Kasus Wal-Mart Cemari PMDN China

Para pelaku bisnis juga menyoroti kasus yang menimpa Wal-Mart juga menambahkan ‘daftar hitam’ perusahaan asing yang terkena masalah di China. Kondisi ini memperoleh perhatian penting dari perusahaan-perusahaan global yang berminat berinvestasi di China. Pihak berwenang di kota Chongqing telah menutup 13 jaringan took milik Wal-Mart dan menahan 37 karyawan, menangkap 2 di antaranya. Kejadian ini terjadi menyusul kesalahan pemberian label daging babi biasa dengan daging babi organik.

Menanggapi kekhawatiran menyusul kasus tersebut, Shen merasa yakin bahwa kebijakan terkait investasi asing di China masih dapat dikatakan bagus dan kuat. Ia yakin bahwa investasi asing yang telah bertumbuh pesat selama 19 tahun di China akan mampu terus tumbuh dengan solid.

Sementara itu data dari Departemen Perdagangan China menunjukkan bahwa investasi asing di China pada bulan September mengalami kenaikan 7.9% dibandingkan bulan Agustus dan mencapai angka 9.05 miliar dolar.


sumber: vibiznews.com
Bookmark and Share

Related Posts by Categories



0 komentar: