(Vibiznews - Business) - Kondisi pasar untuk perdagangan hari ini (24/10) tercatat mengalami pergerakan yang sumringah setelah memperoleh imbas positif dari hasil pertemuan Uni Eropa yang dilangsungkan pada akhir pekan lalu. Pada pertemuan tersebut, para petinggi Uni Eropa berkumpul dan telah menyepakati kesepakatan bersama mengenai upaya penguatan sektor perbankan di negaranya masing-masing. Konteks tersebut berbeda dengan spekulasi yang bergulir pada beberapa hari sebelumnya yang memperkirakan bahwa pada pertemuan tersebut akan dipastikan nominal pemberian bantuan ekonomi Yunani.
Perketat Perbankan Guna Cegah Krisis
Pengetatan sektor perbankan dan adanya regulasi yang mumpuni diharapkan menjadi sebuah rancangan kebijakan yang dilakukan oleh Uni Eropa. Selain dilakukan mandiri oleh negara-negara anggota Uni Eropa, para petinggi di kawasan tersebut juga mengharapkan adanya peran serta yang aktif dari Bank Sentral Eropa (ECB) untuk dapat membantu. Menurut salah satu tokoh favorit di Uni Eropa, Nicolas Sarkozy yang juga Presiden Prancis, ia mengatakan bahwa sektor perbankan merupakan benteng terakhir yang harus diperkuat guna mencegah penularan krisis ekonomi yang terjadi di beberapa negara dan penting juga bagi negara-
Menjawab mengenai kebijakan bail out ekonomi Yunani, Sarkozy menyatakan bahwa upaya tersebut masih dalam taraf pembahasan pada perwakilan Uni Eropa. Hal tersebut menimbulkan sinyalemen bahwa kesepakatan mengenai prospek kebijakan bail out ekonomi Yunani akan berjalan panjang. Ia juga mengemukakan bahwa solusi yang paling tepat disaat ini ialah dengan cara menanggulangi dan memperbaikan sektor perekonomian negara-negara yang sedang mengalami krisis seperti Yunani, Italia dan Spanyol dengan cara mengetatkan kondisi perbankan terutama dari sektor penyaluran kredit selain adanya kebijakan bail out.
Pada hari Rabu mendatang, para petinggi Eropa akan kembali melakukan pertemuan guna memantapkan rancangan kebijakan bersama di sektor perbankan. Banyak kalangan menilai, upaya yang dilakukan oleh Uni Eropa tersebut merupakan hasil dari "kecerobohan" sektor perbankan negara-negara Eropa yang tidak dapat memanfaatkan krisis ekonomi AS ditahun 2008 sebagai acuan untuk memperketat sektor kreditnya. Kebijakan European Financial Stability Facility (EFSF) yang diusung oleh Komisi Eropa yang merupakan Komisi dibawah pengawasan Uni Eropa untuk sementara akan menjadi "senjata" yang akan terus digunakan untuk mengatasi ancaman krisis ekonomi.
Dalam pertemuan kemarin, ke 27 petinggi Uni Eropa menerima dan akan menjalankan EFSF sebagai upaya penyelamatan ekonomi. Fungsi-fungsi utama dari kebijakan tersebut akan secara komprehensif dijalankan. Dari segi peminjaman dana misalnya, EFSF dibawah Komisi Eropa akan semakin ketat dan selektif dalam penyaluran bantuan. Bekerjasama dengan IMF, Komi Eropa akan menseleksi negara-negara yang terbilang memiliki resiko kredit yang besar dengan jumlah uang jaminan yang dimiliki.
Status Bail Out Yunani Semakin Tidak Jelas
Bagi para pelaku pasar, hasil pertemuan yang dilakukan oleh Uni Eropa diatas memberikan sebuah kondisi yang sulit dan penuh dengan spekulasi. Ditengah hegemoni mengenai kebijakan pengetatan sektor perbankan Eropa yang akan membawa hasil yang baik, disisi lain nasib ekonomi Yunani semakin dipertanyakan. Banyak kalangan menilai, bahwa upaya negosiasi yang dilakukan oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy terhadap proposal bail out Yunani telah buntu dan sulit menarik simpati dari negara-negara Uni Eropa lainnya terutama bagi negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam perekonomian di Yunani.
Lihat Analisis Vibiz Research
sumber: vibiznews.com

0 komentar:
Posting Komentar