8.11.11

Kontraktor Nasional Sulit Bersaing Dengan Asing

Selasa, 08 November 2011 08.35 WIB

(Vibiznews-Property) Kontraktor Nasional sampai saat ini masih sulit bersaing dengan asing, khususnya untuk proyek internasional di luar negeri.

"Ini karena tidak adanya dukungan pemerintah dan pihak lainnya khususnya perbankan dan rezim perpajakan kepada kontraktor nasional," kata Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI), Sudarto kepada pers, di Jakarta, usai penjelasan tentang Pameran Konstruksi 2011 23-25 November di Hall B, JCC, Senin.

Sudarto secara singkat menyebut, sampai sekarang satu sikap demi Indonesia (Indonesia Incorporated) dalam bidang konstruksi untuk para kontraktor sebagai pemasok devisa negara itu, tidak ada.

"Padahal, kapitalisasi devisa kontraktor se-dunia sampai saat ini sudah mencapai Rp4.000 triliun," kata Sudarto.

Namun, apa yang dialami oleh para kontraktor Indonesia ketika harus bersaing dengan kontraktor asing di proyek-proyek jangka panjang, katanya, sangat miris.

Sudarto menyebut, kontraktor nasional mendapatkan suku bunga kredit dari perbankan nasional masih relatif tinggi yakni 12 persen.

"Sedangkan kontraktor asing di negara-negara ASEAN dan Asia hanya di bawah lima persen," katanya.

Tidak hanya itu, kontraktor nasional jika bersaing di luar negeri terkena pajak ganda yakni di dalam dan di luar negeri.

Selain itu, tegasnya, kontraktor nasional juga sulit mendapatkan dukungan perbankan nasional karena hampir 100 persen, tidak ada kantor cabang bank nasional di luar negeri.

"Kecuali, di Timor Leste yang sudah ada Bank Mandiri di sana, " katanya.

Dia juga mempertanyakan, mengapa bank asing gampang masuk ke Indonesia, meski melalui kepemilikan saham di perbankan nasional, sedangkan Indonesia sangat sulit buka cabang di luar negeri.

Akhirnya, tegasnya, tidak hanya urusan jaminan dan pinjaman kepada kontraktor yang lambat, untuk urusan ekspor pun, Indonesia lambat karena tidak adanya perwakilan bank nasional di luar negeri.

Oleh karena itu, pihaknya telah berkali-kali berkirim surat kepada pihak terkait seperti Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, perihal aneka hambatan tadi.

"Tapi, sampai sekarang, belum ada penyelesaian juga," katanya.

Anggota AKI di seluruh Indonesia hingga saat ini tercatat sekitar 125 perusahaan/kontraktor berskala besar.

Target penjualan Pada bagian lain, Sudarto mengakui bahwa pihaknya menargetkan jumlah pekerjaan (penjualan) di sektor konstruksi tahun ini sebesar Rp125 triliun.

"Target 'sales' itu lebih tinggi dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp100 triliun," katanya.

Anggota AKI untuk di dalam negeri sejauh ini, katanya, 60-70 persen menggarap proyek-proyek non-APBN dan sisanya 30 persen, proyek-proyek pemerintah.

Sudarto menambahkan, dalam 10 tahun terakhir, kemampuan kontraktor nasional sudah meningkat yakni tidak hanya proyek-proyek ke-PU-an, tetapi mulai merambah kelistrikan, minyak dan gas bumi.

sumber: vibiznews.com
Bookmark and Share

Related Posts by Categories



0 komentar: