(Vibiznews – Business) – Dalam pidatonya di London School of Eonomics
hari Selasa kemarin Nouriel Roubini Sang Dr. Doom kembali menyatakan skeptisme-nya terhadap penanganan krisis global yang sedang diusahakan oleh negara-negara maju saat ini. Menanggapi rencana Jerman untuk melarang aksi-aksi berisiko pada lembaga-lembaga keuangannya Dr. Doom menyatakan pendapatnya bahwa regulasi pasar keuangan hanya merupakan kosmetik dan tidak akan mampu mencegah terciptanya kondisi krisis yang baru. (19/05)
Menurut pria yang memiliki pandangan negative terhadap outlook ekonomi global sehingga dijuluki Dr. Doom ini, krisis bukanlah seekor angsa hitam (situasi yang terjadi secara tiba-tiba dan langka). Krisis adalah angsa putih, kondisi yang bisa terjadi akibat kondisi yang biasa-biasa saja. Menurutnya krisis adalah sesuatu yang sesungguhnya lebih biasa dibandingkan yang kita pikirkan.
“Kita membutuhkan sesuatu yang lebih radikal,” demikian menurut Roubini. “Ide bahwa kita akan dapat menutup sebuah institusi sekelas Goldman Sachs dengan cara yang biasa saja – sebuah lembaga yang telah menjalankan bisnis di hampir 100 negara di dunia – merupakan sesuatu yang absurd.”
Menurut Roubini ada tiga permasalahan utama mengenai bank sebesar Goldman Sachs, yaitu 1) Terlalu besar untuk dibiarkan bangkrut, 2) Terlalu besar untuk di-bail out, dan 3) Terlalu besar untuk dapat dilakukan management risiko terhadapnya.
Bagi Roubini usaha untuk melakukan risk management terhadap institusi sebesar Goldman merupakan suatu mission impossible. Tugas ini menurutnya tidak mungkin dilakukan meskipun oleh manager risiko terbaik sekalipun. Pasalnya kondisi di pasar keuangan jauh terlalu kompleks bagi manusia biasa.
Roubini menyatakan bahwa pengalaman telah membuktikan bahwa skala ekonomis yang dicapai oleh bank-bank besar sebagai hasil dampak dari Glass-Stegall hanya kecil saja (Glass- Stegall merupakan hokum yang mengatur tentang spekulasi lembaga keuangan di AS yang dikeluarkan oleh Federal Deposit Insurance Corporation pada tahun 1933). Sementara itu risiko bahaya terlalu besar untuk bangrut jauh lebih besar dibandingkan keuntungan skala ekonomis.
Sudah Berakhirkah Krisis?
Menanggapi pertanyaan tersebut menurut Dr.Doom kondisi saat ini masih menunjukkan potensi bahwa krisis baru akan terjadi, seperti halnya yang terjadi pada Depresi Hebat di tahun 1933 lalu.
Menurutnya permalahan utama yang terjadi saat ini adalah besarnya utang pemerintah di banyak negara. Rasio utang belum mengalami penurunan, menurut Roubini rasio utang hanya berada dalam kondisi stabil, akan tetapi pada tingkat yang sangat tinggi.
Menurut Roubini pemerintah-pemerintah di dunia bagaikan menghadapi buah simalakama antara bangkrut dan inflasi. Roubini memang tidak secara gamblang menyatakan ramalan mengenai resesi dua digit seperti yang dilakukannya sebelum ini. Akan tetapi secara tegas ia menyatakan bahwa jika defisit anggaran menjadi sesuatu yang tidak terkontrol maka akan timbul masalah besar akan akan sangat sulit untuk mencegah terjadinya resesi yang lebih dalam yang sempat terjadi.
Menanggapi kondisi di kawasan Eropa Roubini memprediksi bahwa krisis yang terjadi di Yunani hanya merupakan puncak dari sebuah gunung es. Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan Spanyol (PIIGS) memiliki permasalahan yang jauh lebih besar dibandingkan utang yang membuncah. Negara-negara ini juga menghadapi permasalahan kurangnya daya saing dan apresiasi euro yang terlalu tajam pada periode 2006 – 2008.
Menurutnya negara-negara ini telah kehilangan pasar di Asia, di mana biaya tenaga kerja dan sektor manufaktur jauh lebih kecil dibandingkan di kawasan Eropa.
Roubini menyarankan tiga cara untuk meningkatkan daya saing di negara-negara Eropa: deflasi, reformasi structural, dan devaluasi euro. Akan tetapi ia memperingatkan bahwa ada kemungkinan pecahnya Uni Eropa apabila tidak semua negara anggotanya memiliki disiplin fiskal yang sama.
Menurut pria yang memiliki pandangan negative terhadap outlook ekonomi global sehingga dijuluki Dr. Doom ini, krisis bukanlah seekor angsa hitam (situasi yang terjadi secara tiba-tiba dan langka). Krisis adalah angsa putih, kondisi yang bisa terjadi akibat kondisi yang biasa-biasa saja. Menurutnya krisis adalah sesuatu yang sesungguhnya lebih biasa dibandingkan yang kita pikirkan.
“Kita membutuhkan sesuatu yang lebih radikal,” demikian menurut Roubini. “Ide bahwa kita akan dapat menutup sebuah institusi sekelas Goldman Sachs dengan cara yang biasa saja – sebuah lembaga yang telah menjalankan bisnis di hampir 100 negara di dunia – merupakan sesuatu yang absurd.”
Menurut Roubini ada tiga permasalahan utama mengenai bank sebesar Goldman Sachs, yaitu 1) Terlalu besar untuk dibiarkan bangkrut, 2) Terlalu besar untuk di-bail out, dan 3) Terlalu besar untuk dapat dilakukan management risiko terhadapnya.
Bagi Roubini usaha untuk melakukan risk management terhadap institusi sebesar Goldman merupakan suatu mission impossible. Tugas ini menurutnya tidak mungkin dilakukan meskipun oleh manager risiko terbaik sekalipun. Pasalnya kondisi di pasar keuangan jauh terlalu kompleks bagi manusia biasa.
Roubini menyatakan bahwa pengalaman telah membuktikan bahwa skala ekonomis yang dicapai oleh bank-bank besar sebagai hasil dampak dari Glass-Stegall hanya kecil saja (Glass- Stegall merupakan hokum yang mengatur tentang spekulasi lembaga keuangan di AS yang dikeluarkan oleh Federal Deposit Insurance Corporation pada tahun 1933). Sementara itu risiko bahaya terlalu besar untuk bangrut jauh lebih besar dibandingkan keuntungan skala ekonomis.
Sudah Berakhirkah Krisis?
Menanggapi pertanyaan tersebut menurut Dr.Doom kondisi saat ini masih menunjukkan potensi bahwa krisis baru akan terjadi, seperti halnya yang terjadi pada Depresi Hebat di tahun 1933 lalu.
Menurutnya permalahan utama yang terjadi saat ini adalah besarnya utang pemerintah di banyak negara. Rasio utang belum mengalami penurunan, menurut Roubini rasio utang hanya berada dalam kondisi stabil, akan tetapi pada tingkat yang sangat tinggi.
Menurut Roubini pemerintah-pemerintah di dunia bagaikan menghadapi buah simalakama antara bangkrut dan inflasi. Roubini memang tidak secara gamblang menyatakan ramalan mengenai resesi dua digit seperti yang dilakukannya sebelum ini. Akan tetapi secara tegas ia menyatakan bahwa jika defisit anggaran menjadi sesuatu yang tidak terkontrol maka akan timbul masalah besar akan akan sangat sulit untuk mencegah terjadinya resesi yang lebih dalam yang sempat terjadi.
Menurutnya negara-negara ini telah kehilangan pasar di Asia, di mana biaya tenaga kerja dan sektor manufaktur jauh lebih kecil dibandingkan di kawasan Eropa.
Roubini menyarankan tiga cara untuk meningkatkan daya saing di negara-negara Eropa: deflasi, reformasi structural, dan devaluasi euro. Akan tetapi ia memperingatkan bahwa ada kemungkinan pecahnya Uni Eropa apabila tidak semua negara anggotanya memiliki disiplin fiskal yang sama.
sumber: vibiznews.com

0 komentar:
Posting Komentar