Pagelaran akbar empat tahun sekali Piala Dunia akan dibuka nanti malam (11/06). Sebanyak 32 negara akan bersaing ketat untuk dapat menggantikan Italia mencium Piala Jules Rimet yang merupakan lambang supremasi sepak bola dunia. Pemegang gelar terbanyak (5 kali) Brazil masuk ke dalam favorit juara bersama juara Eropa 2008 Spanyol.
Akan tetapi sementara fokus khalayak ramai terpaku kepada kinerja tim sepak bola di lapangan, para analis Goldman Sachs mengambil kesempatan untuk mengulas kinerja ekonomi negara-negara partisipan. Apakah besaran GNP negara memiliki korelasi terhadap kesuksesan meraih piala dunia? Tidak demikian menurut Goldman. Korelasi antara GNP dan ranking FIFA hanya sebesar -0.17.
Brazil
Negara yang menempati posisi ranking puncak FIFA ini merupakan pemegang gelar juara dunia terbanyak, yang pada kejuaraan kali ini masih memperoleh banyak dukungan menjadi juara. Brazil merupakan negara besar yang masuk dalam sepuluh besar negara dengan GDP terbesar dunia, yaitu di posisi ke-9.
Para analis memprediksi bahwa pertumbuhan GDP Brazil selama sepuluh tahun ke depan akan berada di level 5% per tahun. Untuk tahun ini Brazil bersama India dan China masih dipercaya sebagai negara dengan return investasi yang aman dan cukup besar. Pada tahun 2040 bahkan negara ini diprediksi dalam mengalahkan Jerman dan Italia dalam hal GDP.
Walikota Rio de Janeiro Eduardo Paes menulis dalam komentar terhadap riset Goldman bahwa jika performa tim sepakbola Brazil di lapangan sebaik kekuatan ekonomi negara itu saat ini maka piala dunia kali ini akan membosankan, soalnya Brazil telah mengantongi lima gelar juara.
Afrika Selatan
Negara penyelenggara piala dunia 2010 ini merupakan negara di benua Afrika yang pertama kali menyelenggarakan pagelaran akbar ini. Afrika Selatan merupakan negara paling kaya di benua Afrika. Peringkat GDP global Afrika Selatan saat ini berada di posisi 25. Akan tetapi kinerja tim sepak bolanya tidak sebaik itu karena saat ini Afrika Selatan hanya menempati posisi ke-83 dalam peringkat dunia FIFA.
Konsekuensi dari penerapan kebijakan ekonomi yang berhati-hati dan masuk akal tampak jelas selama periode krisis keuangan yang berawal dari krisis subprime AS. Penerapan UU kredit nasional dan kebijakan ketat terhadap sektor perbankan Afrika Selatan telah membawa dampak minimnya dampak krisis terhadap ekonomi negara ini. Sementara itu pengeluaran pembangunan infrastruktur untuk mendukung penyelenggaraan piala dunia telah membantu menahan perlambatan dalam aktivitas ekonomi di Afrika Selatan.
Spanyol
Juara piala Eropa tahun 2008 ini merupakan pemegang posisi kedua dari peringkat dunia FIFA, yang saat ini masuk sebagai salah satu kandidat kuat juara. Kinerja tim sepak bola Spanyol dinilai terbaik pada setiap lini, akan tetapi tampaknya prospek ekonomi negara ini jauh dari memuaskan.
Setelah krisis keuangan melanda seluruh dunia, Spanyol merupakan salah satu negara yang terkena imbas besar. Tingkat pengangguran di negara ini melejit bersamaan dengan kenaikan defisit dan utang pemerintah. Pada pemilihan umum di awal 2009 lalu pemerintah Spanyol gagal mencermati kedalaman krisis yang terjadi di akhir 2008 sehingga kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk mengatasi dampak krisis memberikan pengaruh yang kecil.
Setelah pasar anjlok di bulan Februari 2009 lalu pemerintah Spanyol secara terburu-buru mengeluarkan kebijakan yang kurang mengena untuk reformasi rencana pension dan pasar tenaga kerja, akan tetapi seiring dengan pemulihan di pasar, moral hazard menjadi isu tersendiri yang jusru menghambat proses reformasi.
Korea Utara
Korea Utara kembali ke putaran final piala dunia setelah absen selama 36 tahun. Berbagi grup dengan Brazil, Pantai Gading, dan Portugal, bagi banyak pihak Korea Utara dipandang akan segera tersingkir dari parade. Negara ini tidak dapat dipungkiri merupakan negara paling misterius di kancah piala dunia 2010, dengan hanya dua orang pemain yang bermain dalam liga sepak bola Eropa. Reputasi Korea Utara sebagai negara tertutup makin memperkuat ilusi misteri tersebut.
Berkebalikan dengan Korae Selatan yang lincah, kaya dan terkenal, saudaranya Korae Utara merupakan negara tertutup yang memiliki standar hidup rendah akibat ketertutupannya tersebut. Korea Utara tetap memilih untuk menutup diri meskipun saudara-saudara satu ideologinya, China, Vietnam, bahkan Mongolia, telah berhasil meningkatkan standar hidup dengan membuka diri.
Akan tetapi sementara fokus khalayak ramai terpaku kepada kinerja tim sepak bola di lapangan, para analis Goldman Sachs mengambil kesempatan untuk mengulas kinerja ekonomi negara-negara partisipan. Apakah besaran GNP negara memiliki korelasi terhadap kesuksesan meraih piala dunia? Tidak demikian menurut Goldman. Korelasi antara GNP dan ranking FIFA hanya sebesar -0.17.
Brazil
Para analis memprediksi bahwa pertumbuhan GDP Brazil selama sepuluh tahun ke depan akan berada di level 5% per tahun. Untuk tahun ini Brazil bersama India dan China masih dipercaya sebagai negara dengan return investasi yang aman dan cukup besar. Pada tahun 2040 bahkan negara ini diprediksi dalam mengalahkan Jerman dan Italia dalam hal GDP.
Walikota Rio de Janeiro Eduardo Paes menulis dalam komentar terhadap riset Goldman bahwa jika performa tim sepakbola Brazil di lapangan sebaik kekuatan ekonomi negara itu saat ini maka piala dunia kali ini akan membosankan, soalnya Brazil telah mengantongi lima gelar juara.
Afrika Selatan
Konsekuensi dari penerapan kebijakan ekonomi yang berhati-hati dan masuk akal tampak jelas selama periode krisis keuangan yang berawal dari krisis subprime AS. Penerapan UU kredit nasional dan kebijakan ketat terhadap sektor perbankan Afrika Selatan telah membawa dampak minimnya dampak krisis terhadap ekonomi negara ini. Sementara itu pengeluaran pembangunan infrastruktur untuk mendukung penyelenggaraan piala dunia telah membantu menahan perlambatan dalam aktivitas ekonomi di Afrika Selatan.
Spanyol
Setelah krisis keuangan melanda seluruh dunia, Spanyol merupakan salah satu negara yang terkena imbas besar. Tingkat pengangguran di negara ini melejit bersamaan dengan kenaikan defisit dan utang pemerintah. Pada pemilihan umum di awal 2009 lalu pemerintah Spanyol gagal mencermati kedalaman krisis yang terjadi di akhir 2008 sehingga kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk mengatasi dampak krisis memberikan pengaruh yang kecil.
Setelah pasar anjlok di bulan Februari 2009 lalu pemerintah Spanyol secara terburu-buru mengeluarkan kebijakan yang kurang mengena untuk reformasi rencana pension dan pasar tenaga kerja, akan tetapi seiring dengan pemulihan di pasar, moral hazard menjadi isu tersendiri yang jusru menghambat proses reformasi.
Korea Utara
Berkebalikan dengan Korae Selatan yang lincah, kaya dan terkenal, saudaranya Korae Utara merupakan negara tertutup yang memiliki standar hidup rendah akibat ketertutupannya tersebut. Korea Utara tetap memilih untuk menutup diri meskipun saudara-saudara satu ideologinya, China, Vietnam, bahkan Mongolia, telah berhasil meningkatkan standar hidup dengan membuka diri.
sumber: vibiznews.com

0 komentar:
Posting Komentar