18.6.10

Roubini Kembali Bicara: Ekonomi Eropa Terancam Tidak Tumbuh

Nouriel Roubini, sang Dr. Doom, kembali menyatakan sebuah komentar yang membuat hati para pelaku pasar ketar-ketir (07/06). Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Roubini hari Sabtu lalu saat ini kawasan Eropa berpotensi untuk mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar nol persen. Di ajuga menambahkan bahwa Amerika Serikat yang saat ini dianggap telah memasuki masa pemulihan justru masih memiliki risiko tinggi untuk kembali terpuruk dalam kemelut di pasar keuangan. Menurut Roubini Eropa memiliki ancaman serius untuk kembali masuk ke dalam resesi ekonomi.

Bagi Roubini permasalahan yang sedang melanda Yunani hanya ibarat puncak gunung es. Apa yang terlihat saat ini belum seberapa dibandingkan ancaman yang sesungguhnya. Menurutnya Amerika Serikat juga akan mengalami bahaya besar pada sektor keuangannya jika negara ini terus melanjutkan langkah kebijakan yang sedang dilaksanakan saat ini.

Nouriel Roubini yang dikenal dengan nama Dr.Doom ini merupakan orang yang dikenal sebagai peramal krisis keuangan di AS yang berakar dari krisis di sektor perumahan. Menurutnya ekonomi global saat ini berpotensi mengalami krisis jilid kedua, di mana euro menjadi makin tidak berharga dan bank-bank global mengalami kejatuhan.

Negara-negara di kawasan Eropa seperti Spanyol dan Yunani saat ini terpaksa memotong anggaran belanja dan menaikkan pajak untuk dapat mempertahankan akses ke dalam pasar keuangan, meskipun pertumbuhan ekonomi di kedua negara ini hampir nol persen.

Saat ini pemerintah menghadapi pilihan sulit untuk menerapkan kebijakan ekonomi. Jika mereka secara terburu-bur menarik pemberian stimulus maka akan terjadi penurunan permintaan dan menghambat proses pemulihan ekonomi. Akan tetapi di sisi lain jika pemerintah menunda penarikan stimulus hal ini dapat memicu terjadinya inflasi yang berimbas kepada penerapan suku bunga tinggi. Artinya adalah buah simalakama di mana satu dan lain hal sama-sama menyebabkan kehancuran.

Menurutnya langkah yang saat ini paling tepat adalah rencana jangka menengah untuk restorasi anggaran. Akan tetapi kebijakan ini mengandung kelemahan di mana berpotensi untuk menciptakan risiko deflasi.

Apabila euro terus mengalami penurunan maka akan mengakibatkan ekspor Eropa makin berdaya saing dan akan memungkinkan Jerman menaikkan upah dan daya beli di dalam negeri. Hal ini akan menstimulasi ekspor di negara-negara anggota Uni Eropa lainnya.

Menurut Roubini untuk dua sampai tiga tahun ke depan inflasi bukan menjadi ancaman utama bagi Eropa. Menurutnya justru yang menjadi ancaman utama saat ini adalah deflasi, stagnasi, dan tingkat pengangguran tinggi yang sempat dialami Jepang di periode awal 1990-an.

sumber: vibiznews.com
Bookmark and Share

Related Posts by Categories



0 komentar: