Tampilkan postingan dengan label perekonomian global. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perekonomian global. Tampilkan semua postingan

10.11.11

Antam Rencana Terbitkan Obligasi Berkelanjutan

Kamis, 10 November 2011 09:30 WIB

(Vibiznews-Bonds&Mutual) PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berencana menerbitkan surat utang (obligasi) berkelanjutan dengan total Rp 4 triliun. Obligasi terdiri dari dua seri, penggunaan dana untuk pengembangan proyek baru dan pembukaan tambang.

Menurut prospektus ringkas yang dipublikasikan di Jakarta, Rabu (9/11/2011), pada obligasi tahap I akan ditawarkan Rp 1,5 triliun kepada publik akhir tahun ini. Sisanya akan ditawarkan selama-lamanya dua tahun ke depan.

Penggunaan dana obligasi pertama Rp 1,5 triliun, sekitar Rp 1,05 triliun atau 70% sebagai pengembangan usaha berupa renovasi, perbaikan dan moderenisasi pabrik feronikel di Pomalaa. Dana ini juga digunakan untuk pembukaan tambang nikel di Maluku Utara dan atau Sulawesi Tenggara, juga tambang bauksit di Kalimantan Barat.

Kemudian sisanya, Rp 450 miliar akan dihabiskan untuk investasi rutin pada tambang nikel Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan tambang emas.

Obligasi tersebut terdiri dari dua seri. Seri A berjangka waktu tujuh tahun dan seri B berjangka waktu 10 tahun, dengan penawaran 100% dari jumlah pokok. Bunga obligasi dibayarkan setiap tiga bulan sesuai tanggal pembayaran bunga obligasi. Tingkat bunga akan diumumkan kemudian.

PT Deutsche Securities Indonesia, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Standard Chartered Securities Indonesia dipercaya sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Sementara yang bertindak sebagai wali amanat PT Bank Permata Tbk.

Perkiraan masa penawaran awal di 10-24 November, dengan tanggal efektif 2 Desember. Sementara masa penawaran umum dijadwalkan 6-9 Desember, dengan tanggal penjatahan di 12 Desember. Distribusi secara elektronik dan pencatatan di BEI masing-masing terjadi di 14 dan 15 Desember.


Lihat Analisis Vibiz Research

8.11.11

Pasar Obligasi Sepi Karena Sebagian Besar Negara di Asia Libur

Senin, 07 November 2011 18:15 WIB

(Vibiznews-Bonds&Mutual) Sebagian besar pasar regional dalam teritori merah di tengah tipisnya kondisi pasar dan ketidak pastian underlying. IDR melemah terhadap dollar karena tipisnya likuiditas. Bi tidak terlihat di pasar dan Pertamina terlihat menawar dollar hari ini di pasar sehingga menyebabkan spot market terdorong ke atas. Spot dalam kisaran 8985/8995

Karena sebagian besar negara-negara di Asia libur hari ini, pasar obligasi rupiah sangat sepi tanpa adanya perubahan harga dibandingkan dengan harga pada penutupan hari Jum’at.

Yield indikatif :
1 tahun SPN31 5.00%
3 tahun FR26 5.40%
5 tahun FR55 5.58%
10 tahun FR53 6.20%
15 tahun FR56 6.78%
20 tahun FR54 7.16%

Demikian juga dalam pasar obligasi USD sangat sepi karena sebagian besar negara di Asia libur. Pasar umumnya kosong tanpa perdagangan di pasar. Harga tidak berubah.

Yield indikatif beli/jual:
Indon 14o 2.74% / 2.33%
Indon 15 3.02% / 2.74%
Indon 20 3.89% / 3.80%
Indon 21 3.98% / 3.92%
Indon 35 5.15% / 5.04%
Indon 38 5.17% / 5.06%


Lihat Analisis Vibiz Research

1.11.11

Penerbitan Surat Utang Direncanakan Naik 6% di 2012

Selasa, 01 November 2011 09:15 WIB

(Vibiznews-Bonds&Mutual) Pemerintah berencana menerbitkan surat utang atau obligasi sebesar Rp 134,596 triliun untuk membiayai defisit anggaran dan juga membiayai utang jatuh tempo (refinancing) di 2012.

Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati mengatakan, secara neto penerbitan surat utang negara (SUN) tahun depan mencapai Rp 134,596 triliun. Jumlah ini naik 6,4% dibandingkan rencana di tahun ini yang sebesar Rp 126,653 triliun.

"Penerbitan utang masih cukup besar karena kita juga mendanai (surat utang) yang jatuh tempo atau refinancing untuk yang jatuh tempo," kata Anny dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (31/10/2011).

Di dalam APBN 2012 defisit diperkirakan mencapai Rp 124,02 triliun, atau 1,5% dari PDB. Anny mengatakan, secara keseluruhan jumlah utang yang akan ditarik untuk membiayai defisit adalah Rp 133,56 triliun atau naik 6,6% dari 2011 yang sebesar Rp 125,32 triliun.

Pada kesempatan itu, Anny mengatakan ada beberapa kebijakan yang akan diambil pemerintah untuk membiayai APBN. Pertama adalah mengutamakan pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri, mencari sumber pembiayaan yang risikonya rendah.

"Rasio utang terhadao PDB tahun depan diturunkan jadi 24%, lalu mengarahkan pemanfaatan utang untuk kegiatan produktif," imbuh Anny.

Anny mengatakan pemerintah akan berhati-hati dalam menarik utang karena saat ini banyak negara yang tengah kesulitan dengan besarnya defisit anggaran.

Di tempat yang sama, Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto mengatakan jumlah surat utang pemerintah yang diperdagangkan di pasar jumlahnya telah mencapai Rp 700 triliun. Dari jumlah itu 30% dikuasai oleh investor asing.

Tahun depan, menurut Rahmat penerbitan surat utang akan sulit karena kondisi krisis di Eropa. "Ketidakpastian akan terjadi," imbuh Rahmat.

Seperti diketahui, total utang pemerintah Indonesia hingga September 2011 mencapai Rp 1.754,91 triliun. Dalam sebulan jumlah utang itu naik Rp 10,57 triliun dibanding posisi Agustus 2011 yang sebesar Rp 1.744,34 triliun.

Jika dibandingkan dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah utang hingga September 2011 bertambah Rp 78,06 triliun. Secara rasio terhadap PDB, utang RI juga naik dari 27,15% pada Agustus menjadi 27,3% pada September.


Lihat Analisis Vibiz Research

28.10.11

Perjanjian Atasi Krisis Hutang Eropa Mendorong Harga Obligasi Naik

Kamis, 27 Oktober 2011 18:35 WIB

(Vibiznews-Bonds&Mutual) Perjanjian telah dilakukan harin ini oleh para pemimpin Eropa dalam EFSF dan bank rekap, dan pasar bereaksi positif atas berita tersebut. Kredit rally melanjutkan short-covering . Harga obligasi Indon sekitar 0.75 – 1.50 poin lebih tinggi, spread lebih sempit 27 bps. Pasar mengharapkan supply baru dalam kredit segera datang. Indon 21 dalam kisaran harga 105.75/107.125 (T+179 bps). Indo CDS ada dalam kisaran 185/195 (-27 bps).

Yield indikatif beli/jual:
Indon 14o 2.90% / 2.49%
Indon 15 3.26% / 2.97%
Indon 20 3.96% / 3.83%
I*ndon 21 4.03% / 3.94%59+6
/.5474569+
Indon 35 5.28% / 5.17%
Indon 38 5.28% / 5.17%

Perjanjian atas krisis hutang Eropa mendorong harga obligasi rupiah naik 0.25 sampai 0.5 poin sebelum istirahat makan siang. Namun demikian, keuntungan berkurang sejalan dengan pengumuman lelang obligasi untuk Selasa depan. Kali ini, Departemen Keuangan akan mencoba menjual 6 triliun rupiah obligasi, dengan tenor 3 bulan, 1 tahun, 11 tahun, 16 tahun dan 21 tahun. Pada akhir hari, harga kembali kepada penutupan kemarin.

Yield indikatif:

1 tahun SPN31 5.00%
3 tahun FR26 5.30%
5 tahun FR55 5.65%
10 tahun FR53 6.33%
15 tahun FR56 6.91%
20 tahun FR54 7.18%

Lihat Analisis Vibiz Research

26.10.11

Pemerintah Berencana Kurangi Penerbitan SUN

Rabu, 26 Oktober 2011 08:40 WIB

(Vibiznews-Bonds&Mutual) Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mengurangi penerbitan Surat Utang Negara (SUN) apabila penyerapan anggaran tidak berjalan maksimal tahun ini.

"Untuk pemerintah, kita tadi sudah ada rencana misalnya pembiayaan tidak terpakai itu bisa digunakan untuk pembiayaan yang lain atau mengurangi penerbitan surat utang negara," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa malam.

Menkeu memberikan contoh mengenai batalnya pembangunan gedung DPR senilai Rp800 miliar, sehingga dana tersebut tidak terserap maksimal dan masuk kedalam Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA).

"Kalau seandainya tidak jadi artinya sejalan dengan komitmen bahwa pembangunan yang tidak prioritas khususnya pembangunan gedung atau fasilitas yang tidak prioritas, kita akan tunda. Artinya (anggaran) tidak digunakan saja, dikembalikan pada pemerintah sepenuhnya," ujarnya.

Namun menurut Menkeu, target penerbitan obligasi negara serta keinginan untuk menarik pinjaman luar negeri hingga akhir tahun masih sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

"Kami sudah punya rencana untuk 2011 akan menerbitkan netto bond berapa dan gross bond berapa, semua masih sama dengan rencana" katanya.

Sedangkan untuk sisa ruang dari target penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), Kementerian Keuangan melalui Ditjen Pengelolaan Utang akan mengkaji aspek perekonomian terkini terlebih dahulu untuk menentukan kebijakan.

"Hal ini akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Kemenko Perekonomian," ujar Menkeu.

Hingga saat ini pemerintah secara rutin telah menerbitkan SBN sebesar Rp182 triliun dari target yang telah ditetapkan sebesar Rp211 triliun untuk memenuhi target pembiayaan dalam APBN 2011.

Untuk sisa penerbitan sebesar Rp29 triliun, pemerintah masih mempunyai pilihan dengan menerbitkan sukuk global maupun dengan cara lelang SUN yang bisa diputuskan hingga Desember mendatang.


Lihat Analisis Vibiz Research

Investasi Dana Pensiun Capai Angka Rp 20 Triliun Agustus 2011 Ini

Rabu, 26 Oktober 2011 08:35 WIB

(Vibiznews-Bonds&Mutual) Investasi di industri dana pensiun capai Rp 20 triliun di akhir Agustus 2011, naik 15% dari posisi akhir tahun lalu Rp 17 triliun. Jumlah perusahaannya ikut bertambah meski tidak banyak.

Sebagian besar dana investasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) diinvestasikan pada portofolio Deposito sebesar 54,26% (naik 5.04% dibandingkan 31 Desember 2010), SBI 1,79% (turun 0.37% dibandingkan 31 Desember 2010), Saham 4,94% (turun 0.89% dibandingkan 31 Desember 2010), Obligasi sebesar 11,75%, Reksadana sebesar 5,27% (naik 3.06% dibandingkan 31 Desember 2010), dan Surat Berharga Pemerintah sebesar 21,03% (turun 7.45% dibandingkan 31 Desember 2010).

Asosiasi DPLK menyadari manfaat pensiun merupakan aspek penting di saat karyawan tidak bekerja lagi. Oleh karena itu, pengelolaan dana dan investasi DPLK dilakukan secara prudent, berorientasi jangka panjang, dan pilihan jenis investasi harus disesuaikan dengan profil resiko para peserta.

Menurut Ketua Umum Asosiasi DPLK Nicky Theng, saat ini masih banyak perusahaan yang belum memberikan program pensiun kepada karyawannya. Ia mengimbau perusahaan untuk menyediakan program pensiun sebagai bagian untuk meningkatkan produktifitas dan loyalitas karyawan dalam mendukung pencapaian tujuan perusahaan.

"Kita harus berupaya mengurangi atau menghindari ketergantungan para pensiunan terhadap keluarga setelah masa purnabakti nanti," kata Nicky dalam siaran pers, Selasa (25/10/2011).

Menurutnya, pemberian program pensiun kepada karyawan oleh perusahaan sangatlah penting, sebagai bentuk jaminan hari tua. Dalam Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dinyatakan bahwa pemberi kerja harus memberikan manfaat yang sesuai terhadap karyawannya pada saat berhenti kerja, mencapai usia pensiun, cacat tetap dan total, serta meninggal dunia.

Program pensiun merupakan fasilitas program kesejahteraan yang menjadi hak karyawan, di samping dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dalam mencapai tujuan bisnisnya.

"Pada tahun 2011 ini, kami berharap industri DPLK di Indonesia dapat meraih pertumbuhan minimal 22%.

Lihat Analisis Vibiz Research

25.10.11

JPFA Siap Terbitkan Surat Utang Rp 1 Triliun

Senin, 24 Oktober 2011 18:55 WIB

(Vibiznews-Bonds&Mutual), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA) siap menerbitkan surat utang senilai Rp 1 triliun. Masa penawaran obligasi dijadwalkan terlaksana pada Januari 2012.

Demikian disampaikan Direktur PT Bahana Securities, Andi Sidharta di Hotel Pasific Place, SCBD, Jakarta, Senin (24/10/2011). Bahana merupakan penjamin emisi atas obligasi JPFA.

"Kita akan menangani penerbitan obligasi Japfa senilai Rp 1 triliun," jelasnya.

Selain membantu penerbitan obligasi Japfa Comfeed, Bahana memfasilitasi dua perseroan lain. Diantaranya PT Bank International Indonesia Tbk (BNII) dan PT Sarana Multigriya Financial (Persero).

Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), BII siap menerbitkan obliagasi berkelanjutan Rp 2 triliun, dan obligasi subordinasi Rp 500 miliar.

Sedangkan SMF, akan menerbitkan obligasi Rp 2 triliun, Bahana akan bermitra dengan PT AAA Securities sebagai penjamin emisi obligasi SMF.

Lihat Analisis Vibiz Research

24.10.11

Natpac Asset Management Siap Terbitkan Reksadana Baru

Minggu, 23 Oktober 2011 22:40 WIB

(Vibiznews-Bonds&Mutual), PT Natpac Asset Management siap membangun bisnis investasi baru, setelah Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) senilai Rp 407 miliar perseroan yang sebelumnya bermasalah telah tuntas.

Menurut Komisaris Natpac Marusaha Lumban Gaol, perseroan tengah menyiaplan produk baru, namun bukan KPD. Natpac nampaknya akan fokus pada jenis private equity fund atau (Reksa Dana Penyertaan Terbatas/RDPT) yang berbasis proyek.

"Sekarang apa yang paling menarik? Ya mungkin ke RDPT, atau reksa dana," jelas Marusaha di Jakarta, Minggu (23/10/2011).

Ia pun tidak khawatir akan citra buruk Natpac yang sebelumnya dianggap sebagai Manajer Investasi (MI) yang lalai dalam pengelola dana nasabah. Belajar dari kasus terdahulu, perseroan akan lebih cermat dalam mengeluarkan produk. Khususnya dari sisi legalitas.

"Mulai jalan lagi (operasi Natpac) segera, tergantung pemegang saham. Modal sudah disiapkan tentu dari pemegang saham, kan minimalnya Rp 25 miliar. Kita sudah sampaikan itu. Namun kalau data Bapepam-LK baru sampai Rp 10 miliar," katanya.

"KPD sebelumnya dengan nilai Rp 407 miliar sudah selesai dengan baik akhir September. Pengembalian sudah dilakukan, tapi secara bertahap. Kalau penyelesaian dana selesai, kita mulai rekrut sumber daya manusia. Reputasi kita justru sudah berhasil menyelesaikan," tegas Marusaha.

Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam Djoko Hendratto pada pekan lalu juga menyebut, manajemen Natpac telah memindahkan seluruh investasi dari pooling of fund ke bank kustodian. Total KPD Rp 407 miliar pun telah diselesaikan.

"Ini kita benahi, dari seluruh investor telah dilunasi, diselesaikan kewajiban-kewajibannya. Bahkan investor kecanduan untuk beli lagi, tapi kita larang," imbuh Djoko kemarin.

Seperti diketahui, PT Bank ICB Bumiputera Tbk (BABP) menjadi agen penjual untuk KPD Natpac dalam sebuah bundling produk yang ditawarkan kepada nasabah-nasabah Bumiputera. KPD Natpac kala itu dugaan tidak memiliki aset jaminan (underlying asset) yang sesuai dengan nilai KPD. Dengan nilai KPD mencapai Rp 407 miliar, dimana Rp 200 miliar merupakan milik nasabah-nasabah Bumiputera.

Sedangkan nilai aset jaminan yang telah diletakkan di bank kustodian per Juni 2010 baru sebesar Rp 53 miliar. Sisanya masih diupayakan oleh manajemen Natpac.


Lihat Analisis Vibiz Research

19.10.11

Pemerintah Menjual Surat Utang Rp 6 Triliun

Rabu, 19 Oktober 2011 09:32 WIB

Pemerintah kembali menggenjot pengumpulan dana lewat penerbitan surat utang untuk menutup defisit anggaran 2011. Hari Selasa kemarin, pemerintah telah menjual surat utang Rp 6 triliun, di atas target yang ditetapkan Rp 5 triliun.

Demikian isi pengumuman yang disampaikan oleh Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan yang dikutip, Selasa (18/10/2011).

"Lelang 5 seri surat utang negara dalam mata uang rupiah dilakukan pada 4 Oktober 2011. Total penawaran mencapai Rp 17,7 triliun. Pemerintah menyerap Rp 6 triliun," demikian isi pengumuman tersebut.

Adapun hasil lelang 5 seri surat utang negara (SUN) tersebut adalah:

1. SPN03120119, penawaran yang masuk Rp 1,927 triliun. Pemerintah menyerap Rp 200 miliar. Jatuh tempo 19 Januari 2012

2. SPN12121005, penawaran yang masuk Rp 6,74 triliun. Pemerintah menyerap Rp 1,1 triliun. Jatuh tempo 5 Oktober 2012

3. FR0060, penawaran yang masuk Rp 1,567 triliun. Pemerintah menyerap Rp 950 miliar. Jatuh tempo 15 April 2017

4. FR0061, penawaran yang masuk Rp 3,327 triliun. Pemerintah menyerap Rp 2,2 triliun. Jatuh tempo 15 Mei 2022

5. FR0059, penawaran yang masuk Rp 2,79 triliun. Pemerintah menyerap Rp 700 miliar. Jatuh tempo 15 Mei 2027


Lihat Analisis Vibiz Research

14.4.09

Bursa Masih Berpeluang Menguat Minggu Ini

Selasa, 07 April 2009 13:30 WIB

(Vibiznews - Index) - Dow Jones berhasil membukukan penguatan 4 minggu terbaik sejak tahun 1933, serta menembus level krusial 8,000 sejak awal Februari.Bursa global pada minggu ini kemungkinan masih berpotensi untuk melanjutkan rally, seiring dengan ekspektasi pemulihan perekonomian global yang tentunya positif bagi bursa.

Untuk minggu ini, tidak akan ada banyak rilis indicator ekonomi. Dari AS, yang perlu diperhatikan adalah data Trade Balance dan Jobless Claim pada hari Kamis. Sementara itu, Eropa akan menghadapi beberapa indicator yakni Factory Orders dan Industrial Production Jerman, dan Industrial Production Prancis.

Sementara itu, Inggris juga akan merilis Manufacturing Production, Nationwide Consumer confidence dan keputusan suku bunga. Secara keseluruhan, dari indicator ekonomi ini mungkin masih akan ada yang buruk, hanya saja beberapa diharapkan akan memberikan indikasi pemulihan.

Hanya saja, yang perlu jadi fokus mungkin ada pada FOMC Meeting Minutes pada hari Rabu dan ECB Monthly Bulletin yang dapat memberikan sinyal mengenai kebijakan bank sentral selanjutnya. FOMC Meeting Minutes ini diantaranya akan membahas mengenai rencana injeksi $1 triliun ke dalam perekonomian, dengan cara membeli obligasi pemerintah untuk pertama kalinya sejak tahun 60-an. Seandainya ini direspon secara positif, maka tentunya rally akan berlanjut. read more